BINJAI —
Janji perbaikan infrastruktur kembali menjadi sorotan masyarakat Kota Binjai. Kali ini, warga mempertanyakan komitmen Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi, yang akrab disapa Jiji, terkait perbaikan jalan rusak yang sebelumnya pernah menjadi perhatian publik melalui sebuah video di media sosial.
Beberapa bulan lalu, Jiji sempat membuat konten dengan mengendarai sepeda motor Vespa berwarna kuning sambil berboncengan dengan Sekda Kota binjai, melintasi jalan berlubang dan dipenuhi genangan air di Jalan Wahidin Baru, tepatnya di depan Sekolah Teladan, kawasan dekat Pasar Tavip, Kecamatan Binjai Kota.
Dalam video tersebut, ia mencoba merasakan langsung bagaimana sulitnya masyarakat melintasi jalan yang rusak. Aksi itu pun mendapat tanggapan positif dari sejumlah warga yang berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata.
Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat kembali mempertanyakan realisasi janji perbaikan jalan tersebut yang akan terealisasi di bulan Agustus akan tetapi sekarang sudah pertengahan bulan September.
Jalan yang menjadi sorotan masih dikeluhkan warga, sementara video yang diunggah melalui akun media sosial pribadi @hasanuljihadi_ justru terus mendapatkan perhatian publik.
Kondisi itu memunculkan sindiran di tengah masyarakat.
“Ini wakil wali kota atau konten kreator?”
Pertanyaan tersebut mencerminkan kekecewaan sebagian warga yang berharap setiap konten yang dibuat oleh pejabat pemerintah tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menghasilkan perubahan nyata.
Jalan Rusak Mengancam Keselamatan Warga
Persoalan infrastruktur di Kota Binjai tidak hanya terjadi di kawasan Jalan Wahidin Baru.
Warga juga menyoroti kondisi Jalan Diponegoro, Kecamatan Binjai Selatan, khususnya kawasan Rambung Dalam. Ruas jalan tersebut disebut mengalami kerusakan cukup parah dan kerap dilalui kendaraan bermuatan berat, termasuk dump truck.
Lubang-lubang besar di badan jalan dikeluhkan semakin mengganggu aktivitas masyarakat. Warga bahkan menyebut kondisi jalan yang rusak, ditambah minimnya penerangan pada malam hari, dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Sejumlah warga mengaku khawatir setiap kali harus melintasi ruas jalan tersebut, terutama pada malam hari. Mereka berharap pemerintah tidak menunggu terjadinya kecelakaan lebih parah untuk mengambil tindakan.
Warga Tak Ingin Perbaikan pada saat ada memakan korban.
Keresahan masyarakat semakin kuat karena keselamatan pengguna jalan seharusnya menjadi prioritas pemerintah.
Jalan berlubang, genangan air, kendaraan berat, dan minimnya penerangan merupakan persoalan yang tidak boleh dianggap sepele. Apabila dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi membahayakan pengendara dan pejalan kaki.
Warga pun mempertanyakan, apakah pemerintah harus menunggu adanya korban terlebih dahulu sebelum melakukan perbaikan.
Pertanyaan itu semakin relevan di tengah perhatian masyarakat terhadap berbagai peristiwa kecelakaan dan musibah yang terjadi di Kota Binjai, termasuk kabar meninggalnya seorang perempuan paruh baya yang disebut tertimpa pohon di kawasan Tanah Lapang Binjai saat berjualan lukisan.
Warga Menunggu Bukti, Bukan Sekadar Konten
Kehadiran pejabat pemerintah di tengah masyarakat tentu patut diapresiasi. Menjajal jalan rusak dan melihat langsung kondisi lapangan merupakan langkah yang baik untuk memahami persoalan warga.
Namun, bagi masyarakat Binjai, perhatian melalui video media sosial bukanlah tujuan akhir.
Mereka menunggu jalan yang benar-benar diperbaiki, lubang yang ditutup, penerangan yang memadai, serta kepastian kapan pekerjaan akan dilaksanakan.
ini lah membuktikan bobroknya kepemimpinan Amir Hamzah dan Hasanul Jihadi yang menjabat sebagai walikota dan wakil walikota Binjai.
Pada saat ini warga berharap kepemimpinan Wali Kota Binjai Amir Hamzah dan Wakil Wali Kota Hasanul Jihadi mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan infrastruktur yang masih dikeluhkan masyarakat.
Kritik terhadap pemerintah bukan semata-mata bentuk penolakan, melainkan juga harapan agar pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kini, warga Binjai menanti jawaban:
Kapan jalan rusak diperbaiki?
Apa kendala yang dihadapi pemerintah?
Dan apakah janji yang pernah disampaikan akan benar-benar diwujudkan?
Sebab, bagi masyarakat yang setiap hari melewati jalan berlubang, janji bukanlah aspal, dan konten bukanlah perbaikan.
Jalan rusak makin parah, lubang menganga mengancam keselamatan. Warga mempertanyakan keseriusan Pemko Binjai menangani infrastruktur.
Mereka membutuhkan tindakan nyata sebelum jalan rusak memakan korban.
Warga menunggu bukti, bukan sekadar janji.














